Selasa, 06 Maret 2018

Apa yang disebut sekolah unggulan selama ini dipersepsikan sekolah yang memiliki sarana fisik berupa gedung dan sarana-prasarana yang serba megah dan mewah plus input siswa-siswa pilihan berdasarkan nilai akademik yang tinggi ( misalnya nilai 7 ke atas ). Ciri berikutnya biaya sekolah ini menjadi lebih mahal dibanding sekolah lainnya.


Sekolah dengan ciri-ciri seperti itu memang sangat wajar apabila kemudian dipersepsikan sebagai sekolah unggulan. Wajar apabila output siswa menjadi bagus dengan sederet prestasi, baik prestasi akademik maupun non akademik.
Hal demikian telah berlangsung sejak lama dan hampir tanpa kritik sehingga terkesan telah menjadi kebenaran tunggal tentang apa yang disebut dengan Sekolah Unggulan. Benarkah demikian?

Boleh jadi hal itu benar. Misalnya SMAN 1  yang menerima siswa baru dengan rata-rata nilai 8,35. Tentu saja sekolah ini menjadi favorit masyarakat karena memiliki ”koleksi” siswa-siswa berprestasi.
Pertanyaannya kemudian, pernahkah kita berpikir tentang sekolah-sekolah kecil, siswanyanya berasal dari rakyat kecil yang berpenghasilan kecil, nilai akademik mereka rata-rata kecil, dan gurunya berpenghasilan kecil? Pernahkah? Jangan-jangan kita malah meremehkan mereka atau bahkan menyalahkan mereka, ”Bisa nggak sih mengelola sekolah?” Kita mau menamai apa sekolah yang seperti ini, sekolah yang berkualitas rendahkah?

Suparman, pemerhati pendidikan dari Education Forum, di Jakarta, Kompas (3/7). mengatakan bahwa persepsi masyarakat terhadap sekolah unggulan yang selalu menjadi tujuan utama bersekolah bagi putra-putrinya saat ini mestinya diubah. Pemerintah pun harus aktif mengarahkan persepsi ini.

Tidak tepat rasanya menggunakan istilah sekolah unggulan dan sekolah bukan unggulan jika kualifikasinya hanya didasarkan pada kemewahan dan kelengkapan sarana fisik sekolah serta input siswa dengan nilai akademik yang tinggi. Hal ini justru tidak sesuai dengan tujuan pendidikan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Bagaimana mungkin sekolah-sekolah ”unggulan” itu dikatakan telah turut mencerdaskan bangsa kalau sejak awal mereka telah memilih warga bangsa yang sudah cerdas. Bukankah idealnya pendidikan itu berlaku untuk siapa saja untuk kemudian dicerdaskan otaknya, dilembutkan perasaannya, dan disadarkan spiritualitasnya sehingga otak dan hati mereka menjadi transenden menuju ke kesadaran ilahiyah.

Memang seperti dikatakan Suparman bahwa sekolah yang bukan unggulan harus mengubah citranya untuk lebih baik sehingga persepsi masyarakat tidak lagi terpaku pada sekolah-sekolah unggulan yang ada sekarang. Kalau sekolah unggulan selama ini dicitrakan sebagai sekolah dengan kualifikasi seperti disebutkan dimuka, maka sekolah non unggulan harus memilih kualifikasi mana yang lebih mendesak untuk dipercepat akselerasinya agar dapat mensejajarkan diri dengan sekolah unggulan yang ada. Sekolah non unggulan agaknya perlu memilih untuk lebih memfokuskan diri pada upaya mengeksplor prestasi siswa dengan memperhatikan secara serius potensi individual siswa. Sekolah non unggulan harus jeli dalam menterjemahkan kecerdasan yang multidimensional.

Paling tidak kecerdasan manusia itu meliputi delapan hal seperti yang dikatakan Prof. Howard Gardener yaitu kecerdasan linguistik, kecerdasan matematis logis, kecerdasan visual spasial, kecerdasan kinestetis, kecerdasan musik, kecerdasan naturalis, kecerdasan interpersonal dan kecerdasan intrapersonal. Gardener merangkum aspek-aspek kecerdasan ini dalam istilah Multiple Intelligence.

Secara teoritis, multiple intelligence tersebut telah familiar di telinga para pengelola pendidikan tetapi sangat jarang yang benar-benar memberlakukannya. Mungkin hanya Sekolah Alam yang telah berupaya untuk mengakomodasi beragamnya kecerdasan manusia ini. Lalu bagaimana dengan penyelenggaraan sekolah-sekolah konvensioanal? Kalau mereka terus mengabaikan hakikat manusia yang multidimensi, termasuk kecerdasannya yang beraneka ragam dan amat luas dimensinya, maka cepat atau lambat jangan-jangan mereka akan tinggal nama.

0 komentar:

Posting Komentar

Video ABA

Mengenai Saya

Trimakasih Telah Berkunjung di Blog Kami Semoga Bermanfaat

Popular Posts

Blog Archive

Follow by Email