Selasa, 06 Maret 2018

Diriwayatkan dari Ibnu Mas'ud, dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam,
bahwasanya beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Hendaklah kalian
berlaku jujur, karena sesungguhnya kejujuran menghantarkan kepada
kebaikan,dan sesungguhnya kebaikan menghantarkan kepada surga, dan apabila
seseorang senantiasa berlaku jujur niscaya ia di tulis di sisi Allah Ta'ala
sebagai seorang yang jujur, dan janganlah kalian berdusta karena
sesungguhnya dusta menghantarkan kepada kejelekan, dan sesungguhnya
kejelekan menghantarkan kepeda neraka, dan apabila seseorang senantiasa
berlaku dusta niscaya ia di tulis di sisi Allah Ta'ala sebagai seorang
pendusta." (Muttafaqun 'alaih).


Lantas apakah hakekat kejujuran..? Syaikh al-utsaimin Ta'ala berkata, "Jujur
adalah, selarasnya khabar dengan realita, baik berupa perkataan atau
perbuatan."

Oleh karenanya kita katakan, apabila khabar (perkataan) selaras dengan
kenyataan maka itulah kejujuran dengan llisan, dan apabila perbuatan badan
selaras dengan hati maka itulah kejujuran dengan perbuatan.

Maka, orang yang berbuat riya', bukanlah orang yang jujur, karena dia
menampakkan ketaatan tapi hatinya tidak demikian.

Begitu juga orang munafiq, menampakkan keimanan dan menyembunyikan
kekufuran.

Demikian orang musyrik, menampakkan ketauhidan dan menyembunyikan
peribadatan kepada selain Allah.

Tak jauh beda dengan ahli bid'ah, menampakkan keta'atan dan pengikutan
kepada rasul akan tetapi dia menyelisihinya.

“Mulutmu adalah harimaumu” hal ini hendaknya mengilhami kita untuk berhati-hati dalam menjaga lisan (perkataan) kita, bahkan lebih lanjut, pepatah arab mengatakan: “salamatul insani fi khifdhil lisaani”; keselamatan manusia itu didalam menjaga lisannya. Sehingga hendaknya dalam menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan ini, kita benar-benar harus mampu menjaga lisan dari berdusta, menggunjing, mengadu domba, mengolok-olok serta perkataan mengada-ada. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan dan perbuatan dusta maka Allah tidak butuh terhadap puasanya dari makan dan minum.” (HR. Al-Bukhari)

Dari hadist diatas menggambarkan betapa besar pengaruh kejujuran dalam puasa, akan sia-sia puasa seseorang jika ia masih berbohong dimanapun dan kapanpun ia berada. Sungguh puasa merupakan sebuah amalan yang sangat istimewa sebab ibadah ini sangat tergantung pada kejujuran seseorang, didalam menjalankannya seakan-akan yang hanya Allah SWT dan ia sendiri (shaim) yang tahu. Dalam berpuasa, seseorang yang tidak jujur bisa dengan diam-diam minum atau makan, apalagi bila sedang bepergian jauh. Ketika ia melanggar prosedur berpuasa, hanya Allah dan ia sendiri yang tahu. Karena tergantung kejujuran itulah maka Allah akan memberi penilaian tersendiri, sebagaimana sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, yang artinya :”setiap amal perbuatan anak Adam itu untuknya sendiri kecuali puasa, sesungguhnya ia untuk-Ku (Allah SWT) dan Aku-lah yang akan mengganjarnya sendiri”
Puasa melatih kejujuran dengan melakukan perbuatan yang benar. Seseorang yang memiliki kejujuran maka akan mampu mengatakan dan menyatakan kebenaran, yang tidak hanya bisa membenarkan kenyataan. Karakter kejujuran ini mempunyai arti penting dalam pembentukan kepribadian seseorang juga masyarakat. Dan apabila seseorang sudah menggapai predikat takwa dengan puasanya, yaitu disiplin dalam menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, ia akan menjadi orang yang dapat dipercaya atau seorang yang amanah. Profil orang yang dapat dipercaya secara sempurna dapat diraih Rasulullah SAW, bahkan saat beliau masih remaja panggilan Al Amin (yang dapat dipercaya) telah disandangnya.

Berbeda dengan amal ibadah yang lain seperti sholat, yang bisa terlihat jelas gerakan-gerakannya, maka ibadah puasa tidak bisa terlihat secara konkrit, disinilah setiap orang yang berpuasa dilatih kejujuran. Kejujuran dalam arti tidak melakukan sesuatu hal yang membatalkan puasa walaupun tidak ada orang lain yang tahu. Orang yang kejujurannya sudah terbentuk maka ketika berwudlu ia tidak akan berani korupsi meneguk air ketika berkumur walaupun orang disampingnya tidak mengetahuinya. karena dia sadar bahwa ketika berpuasa hanya dia  dan Allah SWT saja yang mengetahui dan dia yakin Allah Maha Mengetahui lagi Maha Melihat apa yang dia lakukan sebagaimana firman Allah SWT didalam surat Al-Mu’minun ayat 51 yang artinya: “wahai para rasul Makanlah dari makanan yang baik, dan kerjakanlah kebajikan. Sungguh Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”.

Kejujuran muncul karena puasa mengedepankan rukun ihsan yang harus kita miliki sebagaiman definisi ihsan yaitu: “anta’budallaha ka-annaka taraahu wainlam takun tarahu fainnahu yaraaka” artinya; “beribadahlah kepada Allah SWT, seakan-akan kamu dapat melihat-Nya dan jika kamu tidak dapat melihat-Nya, maka yakinlah bahwa Allah melihatmu”. Semoga  puasa kita dapat menumbuhkan kejujuran dalam diri.

0 komentar:

Posting Komentar

Video ABA

Mengenai Saya

Trimakasih Telah Berkunjung di Blog Kami Semoga Bermanfaat

Popular Posts

Blog Archive

Follow by Email