Selasa, 30 Oktober 2012



Ada banyak ibadah yang menjadi kewajiban seorang muslim dalam menjalani kehidupan sehari-harinya, salah satu diantaranyanya adalah Dikir, Bersyukur, dan Beribadah dengan baik. Nabi Muhammad saw berpesan kepada para sahabat, “Wahai sahabatku, hendaklah kalian tidak meninggalkan doa  Allohumma a’innii ‘alaa Dzikrika wasyukrika wahusni ‘ibaadatika, Ya Alloh tolonglah aku untuk berdzikir kepada-Mu, bersyukur kepada-Mu serta beribadah dengan baik”.
Dzikir
Kata ‘dzikir’ memiliki banyak arti tergantung dari media yang digunakan. Media tersebut bisa berupa hati/pikiran, lisan, atau perbuatan. Saat hati/pikiran yang dijadikan media, maka dzikir bermakna mengingat Alloh SWT. Saat lidah yang dijadikan media, maka dzikir bermakna menyebut nama dan sifat yang indah/terpuji serta kalimat-kalimat dzikir lainnya yang ada dalam al-quran dan hadits. Sementara itu, kalau anggota tubuh yang dijadikan media, maka dzikir berarti ketaatan terhadap Alloh dan rosulnya.
Setiap media tersebut, kalau dilakukan dengan penuh keikhlasan, maka darinya akan mendapatkan kebaikan. Namun yang lebih utama adalah mengintegrasikan ketiga media tersebut, yakni hati/pikiran dan lisan serta bermuara pada ketaatan yang konsisten. Saat keseharian hidup kita difokuskan  untuk mengerjakan ketaatan, maka secara tidak langsung kita sedang mengingat-Nya (dzikir). Rosululloh bersabda, “Barang siapa yang taat kepada Alloh, maka sungguh ia sedang dzikir kepada Alloh”.
Banyak kalimat dzikir yang diajarkan dalam islam misalnya Subhanalloh, Alhamdulilah, Allohu akbar, Laa ilaha illalloh dan lain sebagainya. Kalimat ini sangatlah ringan diperbuat namun banyak menuai pahala.
Saat kita berdzikir, sesungguhnya kita tidak melakukannya sendirian. Melainkan ditemani semua makhluq yang di alam semesta. Dikatakan dalam al-quran, semua makhluq memuji kebesaran tuhan, akan tetapi kita tidak memahami bahasa yang mereka gunakan. Salah seorang ulama mengatakan, boleh jadi saat kita membuka pintu dan terdengar suara pintu. Itu adalah bagian cara dia bertasbih kepada Alloh. Begitu pula dengan suara kilat, petir, sungai, awan, angin, dan lain sebagainya.
Saat kita berdzikir dengan lidah, maka hati dan pikiran haruslah mengawalnya. Agar dzikir yang dilakukan tidak kosong atau ngelantur. Berusahalah konsentrasi dan fokus untuk mengawal perjalanan dikir yang kita lakukan, dan yakinlah Alloh maha mendengar dan akan merespon apa yang diucapkan.
Dzikir utama yang diajarkan Islam adalah membaca alquran. Al-Quran akan datang memberikan pertolongan kepada orang yang membacanya. Untuk itu berkomitmenlah untuk tidak melewatkan sehari semalam tanpa membaca al-Quran meskipun minimal satu ayat. Al-Quran adalah  penawar hati dan pikiran, serta obat secara fisik. Ia memberi kesembuhan sekaligus rahmat bagi orang muslim.
Dengan memperbanyak dzikir kepada Alloh, maka kelak di yaumul akhir kita akan mendapatkan syafa’at karenanya. Saat berada di padang mahsyar, manusia akan berada dalam rasa panik dan mencari perlindungan. Pertama tama manusia ’mengemis’ kepada nabi nuh untuk meminta sya’faat. Namun, nabi Nuh tidak bisa memberikannya, malah ia menganjurkan meminta kepada nabi Ibrahin.
Saat menemui Nabi Ibrahim, beliau pun tidak bisa memberikan syafa’at, dan menganjurkan meminta kepada nabi Musa. Begitu pula nabi Musa. Ia tidak bisa memberikan syafa’at dan menganjurkan meminta kepada Isa.  Seperti halnya nabi sebelumnya, nabi Isa pun tidak bisa memberikan syafa’at dan dia menyarankan meminta kepada nabi Muhammad.
Sampailah manusia menemui nabi Muhammad, dan beliau bersabda, “Saya tidak berhak memberi pertolongan kecuali atas izin Alloh”.  Selanjutnya Alloh berfirman, “Berikan syafa’at kepada siapapun yang berhak mendapatkannya, kecuali orang yang rajin membaca Laa ilahaillalloh, karena Aku-lah yang langsung memberi syafa’at kepadanya”.
“Dikutip dari Pengajian Mesjid Darussalam Kota Wisata, 15 Jan 2011, Narasumber: DR Aminulloh”
Amalan dzikir tidaklah mudah diterapkan, terkadang kita ingat pada saat tertentu, tetapi lupa pada saat yang lain. Dzikir merupakan benteng dari godaan syetan untuk melakukan larangan-larangan-Nya.
 Alloh berfirman dalam QS Al-Mujadilla
Syetan telah mengusai mereka lalu menjadikan mereka lupa mengingat Alloh, mereka itulah golongan syetan. Ketahuilah bahwa sesungguhnya golongan syetan itulah golongan yang merugi”.
Artinya, apabila diri kita sudah dikendalikan oleh syetan, maka kita akan lupa mengingat Alloh dan berpotensi untuk melakukan larangan-larangan-Nya. kita akan menjadi sahabat syetan, dan termasuk kelompok yang merugi. Oleh karena itu, bentengilah diri kita dengan selalu berdzikir kepada Alloh swt.
Dalam surat Al-Ahzab 41-42, Alloh swt berfirman

 “Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama) Alloh, Dzikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang”.
Dikir juga merupakan syarat mutlak jika ingin menang dalam berdakwah, sebagaimana firman Alloh dalam QS Al-Anfal 45: “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu memerangi musuh, maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Alloh sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung”.
Syukur
Alloh swt memerintahkan kepada kita untuk selalu bersyukur setiap saat, sementara dalam realitasnya kita susah melakukannya. Sehingga pantaslah
Alloh berfirman dalam QS al-Araf 10:

10.  Sesungguhnya kami Telah menempatkan kamu sekalian di muka bumi dan kami adakan bagimu di muka bumi (sumber) penghidupan. amat sedikitlah kamu bersyukur.
 “… Amat sedikitlah kamu bersyukur”.
Jika kita bicara terhadap nikmat yang diberikan Alloh swt, apakah kita tidak berfikir
betapa banyaknya nikmat lisan, telinga, mata, kesehatan,dll yang kita dapatkan.
Sekiranya kita menghitung nikmat tersebut, tidaklah dapat terhitung.
Imam al-ghozali bertanya kepada murid, apakah kaliah senang jika mata kalian diambil Alloh dan diberi uang 100 dinar?, sang murid menjawab  tidak. Lalu sang imam bertanya kembali, apakah kalian senang juga seandainya kaki dan tangan diambil Alloh dan diberi uang 200 dinar?, sang murid menjawab lagi, tidak. Sang iman berkata, inilah bukti kalian kurang bersyukur kepada Alloh, karena pada saat Alloh  memberikan musibah masih banyak kenikmatan-kenikmatan lain yang diberikan kepada kalian. sehingga, jadilah orang-orang  yang selalu bersyukur, karena Alloh akan menambah nikmatnya bagi hamba yang selalu bersyukur.
Baik dalam Beribadah
Dalam hal ini, seharusnya dalam melaksanakan ibadah (sholat, puasa, dakwah, jihad,dll) didasari oleh niat  ikhlas semata-mata ingin mendapatkan keridhoan dan pahala dari Alloh swt.
“Dikutip dari ceramah subuh, tgl 9 April 2009 di Mesjid Darussalam Kota Wisata Cibubur”

0 komentar:

Posting Komentar

Video ABA

Mengenai Saya

Trimakasih Telah Berkunjung di Blog Kami Semoga Bermanfaat

Popular Posts

Blog Archive

Follow by Email