Minggu, 17 Juni 2012


Rasulullah SAW bersabda kepada menantunya, Ali r.a. , " Wahai ‘Ali, setiap sesuatu pasti ada penyakitnya.
Penyakit bicara adalah bohong,
penyakit ilmu adalah lupa,
penyakit ibadah adalah riya’,
penyakit akhlaq mulia adalah kagum kepada diri sendiri,
penyakit berani adalah menyerang,
penyakit dermawan adalah mengungkap pemberian,
penyakit tampan adalah sombong,
penyakit bangsawan adalah membanggakan diri,
penyakit malu adalah lemah,
penyakit mulia adalah menyombongkan diri,
penyakit kaya adalah kikir,
penyakit royal adalah hidup mewah, dan
penyakit agama adalah nafsu yang diperturutkan…."
Ketika berwasiat kepada ‘Ali bin Abi Thalib r.a. Rasulullah SAW bersabda, "Wahai ‘Ali, orang yang riya’ itu punya tiga ciri, yaitu : rajin beribadah ketika dilihat orang, malas ketika sendirian dan ingin mendapat pujian dalam segala perkara. "
Wahai ‘Ali, jika engkau dipuji orang, maka berdo’alah, " Ya Allah, jadikanlah diriku lebih baik daripada yang dikatakannya, ampunilah dosa-dosaku yang tersembunyi darinya, dan janganlah kata-katanya mengakibatkan siksaan bagiku…"
Ketika ditanya bagaimana cara mengobati hati yang sedang resah dan gundah gulana, Ibnu Mas’ud r.a berkata, " Dengarkanlah bacaan Al-Qur’an atau datanglah ke majelis-majelis dzikir atau pergilah ke tempat yang sunyi untuk berkhalwat dengan Allah SWT Jika belum terobati juga, maka mintalah kepada Allah SWT hati yang lain, karena sesungguhnya hati yang kamu pakai bukan lagi hatimu…"
-hamba Allah-



Hari pertama : Hari kemarin.
Kita tak bisa mengubah apa pun yang telah terjadi.
Kita tak bisa menarik perkataan yang telah terucapkan.
Kita tak mungkin lagi menghapus kesalahan dan mengulangi kegembiraan yang Kita rasakan kemarin.
Biarkan hari kemarin lewat dan beristirahat dengan tenang;
lepaskan saja…

Hari ke dua : hari esok.
Hingga mentari esok hari terbit,
Kita tak tahu apa yang akan terjadi.
Kita tak bisa melakukan apa-apa esok hari.
Kita tak mungkin sedih atau ceria di esok hari.
Esok hari belum tiba; toh belum tentu esok hari Kita merengkuhnya
biarkan saja…


Hari ke tiga : yang tersisa kini hanyalah hari ini.
Pintu masa lalu telah tertutup,
Pintu masa depan pun belum tiba.
Pusatkan saja diri Kita untuk hari ini.
Kita dapat mengerjakan lebih banyak hal hari ini bila Kita mampu memaafkan hari kemarin dan melepaskan ketakutan akan esok hari.
Hiduplah hari ini. Karena, masa lalu dan masa depan hanyalah permainan pikiran yang rumit.
Hiduplah apa adanya. Karena yang ada hanyalah hari ini, hari ini yang abadi.
Perlakukan setiap orang dengan kebaikan hati dan rasa hormat, meski mereka berlaku buruk pada Kita.
Cintailah seseorang sepenuh hati hari ini, karena mungkin besok cerita sudah berganti.
Ingatlah bahwa Kita menunjukkan penghargaan pada orang lain bukan karena siapa mereka, tetapi karena siapakah diri Kita sendiri

Jadi, jangan biarkan masa lalu mengekangmu atau masa depan membuatmu
bingung, lakukan yang terbaik HARI INI dan lakukan sekarang juga

dari milis motivasi

Senin, 11 Juni 2012



Sore hari di tengah telaga, ada dua orang yang sedang memancing. Mereka adalah ayah dan anak yang sedang menghabiskan waktu mereka disana. Dengan perahu kecil, mereka sibuk mengatur pancing dan umpan.  Air telaga bergoyang perlahan dan membentuk riak-riak kecil di air. Gelombangnya mengalun menuju tepian, menyentuh sayap-sayap angsa yang sedang berjalan beriringan. Suasana begitu tenang, hingga terdengar sebuah percakapan.
“Ayah.”
“Hmm..ya..” Sang ayah menjawab pelan. Matanya tetap tertuju pada ujung kailnya yang terjulur.  “Tadi malam ini,aku bermimpi aneh.  Dalam mimpiku, ada dua ekor singa yang sedang berkelahi. Gigi-gigi mereka, terlihat runcing dan tajam. Keduanya sibuk  mencakar dan menggeram, saling ingin menerkam. Mereka tampak ingin saling menjatuhkan.” ucap sang anak.

Anak muda ini terdiam sesaat. Lalu, mulai melanjutkan cerita, “singa yang pertama, terlihat baik dan tenang. Geraknya perlahan namun pasti. Badannya pun kokoh dan bulunya teratur. Walaupun suaranya keras, tapi terdengar menenangkan buatku.”

Ayah mulai menolehkan kepala, dan meletakkan pancingnya di pinggir haluan.”Tapi, singa yang satu lagi tampak menakutkan buatku. Geraknya tak beraturan, sibuk menerjang kesana-kemari. Punggungnya pun kotor, dan bulu yang koyak. Suaranya parau dan menyakitkan.”
“Aku bingung, maksud dari mimpi ini apa?. Lalu, singa yang mana yang akan memenangkan pertarungan itu, karena sepertinya mereka sama-sama kuat?”
Melihat anaknya yang baru beranjak dewasa itu bingung, sang Ayah mulai angkat bicara. Dipegangnya punggung pemuda di depannya. Sambil tersenyum, ayah berkata, “pemenangnya adalah, yang paling sering kamu beri makan.”
Ayah kembali tersenyum, dan mengambil pancingnya. Lalu, dengan satu hentakan kuat, di lontarkannya ujung kail itu ke tengah telaga. Tercipta kembali pusaran-pusaran air yang tampak membesar. Gelombang riak itu kembali menerpa sayap-sayap angsa putih di tepian telaga.
=========
Sahabat Resensi,  setiap diri kita memiliki “singa” saling bertolak belakang. Masing-masing ingin menjadi pemenang, dengan menjatuhkan salah satunya. Singa-singa itu adalah gambaran dari sifat yang kita miliki. Kebaikan dan keburukan. Dua sifat ini sama-sama memiliki peluang untuk menjadi pemenang dan kita pun dapat mengambil sikap untuk memenangkan salah satunya. Semua tergantung dengan singa mana yang sering kita beri makan.
Salah satu santapan dari singa yang buruk adalah sinetron. Sinetron memiliki naskah yang  dangkal, emosional berlebihan, pendidik yang baik dalam hal kekerasan, kelicikan, alur cerita yang dipanjang-panjangkan, yang makin hari makin tidak berkualitas. Sinetron yang baik bisa dihitung dengan jari.
Belum lagi, kita juga disuguhkan oleh tayangan gosip, yang membuka-buka aib orang lain. Juga tayangan yang mempertontonkan keburukan dan kekerasan.
Ingat, keburukan yang koar-koarkan akan menghasilkan keburukan yang serupa.
Sahabat,
“Katakanlah, “Aku berlindung kepada Rabb (Tuhan yang memelihara dan menguasai) manusia. Raja manusia. Ilaah (sembahan) manusia, dari kejahatan (bisikan) setan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari (golongan) jin dan manusia.”
Al Qur’an Surat An-Nas.
Setiap dari kita merindukan tayangan yang berkualitas, yang menengok pribadi-pribadi yang tangguh dalam berjuang tuk mencapai prestasi. Tayangan yang santun, tayangan yang mengajak untuk  lebih dekat dengan Tuhannya.
Apa yang kita baca dan apa yang kita lihat, adalah makanan bagi pikiran kita. Apa yang terpikirkan, itulah yang akan tersikap.

Minggu, 10 Juni 2012


Memahami pengertian efisiensi waktu adalah sangat penting. Sebab, salah definisi akan menyebabkan kita salah bertindak dan tidak sesuai dengan tujuannya. Jadi, jangan sampai salah memahami pengertian efisiensi waktu, sebab jika salah, maka Anda tidak akan pernah bisa mencapai efisiensi waktu.
Pertema kita bahas dulu definisi efisiensi waktu. Saya kutip dari sebuah artikel tentang definisi pengertian efisiensi yang bisa Anda baca disini.
Pengertian efisiensi menurut Mulyamah (1987;3) yaitu:
“Efisiensi merupakan suatu ukuran dalam membandingkan rencana penggunaan masukan dengan penggunaan yang direalisasikan atau perkataam lain penggunaan yang sebenarnya”

Sedangkan pengertian efisiensi menurut SP.Hasibuan (1984;233-4) yang mengutip pernyataan H. Emerson adalah:
“Efisiensi adalah perbandingan yang terbaik antara input (masukan) dan output (hasil antara keuntungan dengan sumber-sumber yang dipergunakan), seperti halnya juga hasil optimal yang dicapai dengan penggunaan sumber yang terbatas. Dengan kata lain hubungan antara apa yang telah diselesaikan.”

Jadi, jika saya sederhanakan, efisiensi adalah perbandingan output dan input. Disebut memiliki sebuah efisiensi 100% jika output (hasil) sesuai dengan input (sumber daya) yang diberikan.
Jika kita berbicara pengertian efisiensi waktu, maka yang menjadi input adalah waktu yang Allah berikan kepada makhluq-Nya yaitu 24 jam sehari, 7 hari seminggu. Outputnya adalah semua pencapaian yang Anda dapatkan.

Pengertian Efisiensi Waktu adalah Nilai Waktu

Pengertian Efisiensi Waktu: Manfaat Yang Dihasilkan

Yang menjadi perhatian disini adalah input waktu bagi semua orang adalah sama. Namun, bisa kita lihat pencapaian setiap orang berbeda. Kenapa? Ya, efisiensi yang dimiliki setiap orang dalam memanfaatkan waktu berbeda-beda. Ada orang, yang dalam sehari mampu menghasilkan uang Rp 2,5 milyar dalam sehari. Namun ada juga orang yang menghasilkan Rp 25.000 dalam sehari. Ada orang yang mampu mendakwahi jutaan orang, ada juga yang untuk keluarganya sendiri tidak mampu.
Coba tengok diri kita, sejauh mana yang kita dapatkan? Itulah gambaran besarnya efisiensi yang Anda miliki. Seringkali orang menyalahkan takdir dengan pencapaian yang rendah. Namun Allah SWT memerintahkan kita untuk berusaha, memanfaatkan waktu yang sudah diberikan-Nya. Bukan hanya seberapa banyak Anda berusaha, tetapi juga seberapa bagus kualitas usaha Anda. Apalagi, jika kita tidak berusaha sama sekali.

Kekosongan Waktu

Fondasi dasar dari efisiensi waktu adalah kualitas tindakan. Input tidak bisa diubah, bahkan jika sudah lewat tidak bisa kembali lagi. Maka untuk meningkatkan output, satu-satunya yang bisa kita lakukan ialah memperbaiki proses, artinya meningkatkan kualitas tindakan, sebab tindakan adalah proses dalam menghasilkan output.
Apa yang menyebabkan kualitas tindakan bisa turun bahkan hampa? Ya, karena ada kekosongan dalam tindakan itu. Jadi, tidak bisa sembarang tindakan, tetapi harus tindakan yang “berisi” atau berkualitas agar mendapatkan hasil yang berkualitas juga. Apa saja kekosongan dalam tindakan itu?
Yang pertama adalah kekosongan akal.
Dan mereka berkata: “Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala“. (QS. Al Mulk:10)
Dalam tafsir Shofwat Tafaasiir, karya As-Shabuni, dijelaskan, “Orang-orang kafir itu mengatakan, sekiranya kami memiliki akal yang kami manfaatkan atau kami gunakan pendengaran untuk mencari kebenaran dan senantiasa meniti hidayah, niscaya kami tidak tertgolong mereka yang masuk neraka dengan ap yang menyala-nyala.”
Kekosongan akal bisa terjadi jika seseorang tidak mau mengisi akalnya dan tidak mau menggunakan akalnya dengan baik. Tidak mau belajar atau malas belajar tanda orang yang tidak mau mengisi akalnya dengan sesuatu yang bermanfaat. Orang yang malas berpikir, cepat mengambil kesimpulan, tidak mau berusaha memahami sesuatu, menilai dengan emosi atau memperturutkan hawan nafsu, dan sejenisnya adalah ciri orang yang tidak mau mempergunakan akalnya dengan optimal.
Orang-orang seperti ini tidak akan pernah efisien dalam hidupnya. Dia mungkin bertindak, tetapi bisa saja tidak berarti atau salah arah. Bahkan, orang yang beribadah, tetapi tidak didasari ilmu, ibadah itu pun bisa tertolak. Mari kita instropeksi, apakah kita lebih mendahulukan akal atau hawa nafsu? Silahkan lihat juga artikel lainnya tentang urgensi berpikir.
Jangan berharap menghasilkan yang luar biasa saat akal Anda masih kosong. Pengertian efisiensi waktu tidak bisa lepas dari akal atau pikiran Anda.
Yang Kedua adalah Kekosongan Hati.
Selain akal, yang tidak bisa lepas dari pengertian efisiensi waktu adalah kekosongan hati. Semua yang Anda lakukan akan menjadi baik jika hati Anda baik.
Ketahuilah bahwa di dalam tubuh ada sekerat daging. Apabila daging itu baik, maka seluruh tubuh itu baik; dan apabila sekerat daging itu rusak, maka seluruh tubuh itu pun rusak. Ketahuilah, dia itu adalah qalbu. (HR Bukhari)
Kualitas tindakan Anda, akan sesuai dengan kualitas hati Anda. Jika baik, maka semuanya baik. Jelas, ini sangat berkaitan dengan pengertian efisiensi waktu.
Yang ketiga adalah kekosongan jiwa
Apa bahayanya jika jiwa kita kosong? Dalam tafsir Fi Dzilalil Qur’an, dijelaskan, “Itulah gambaran jiwa yang kosong:
  1. yang tidak pernah mengenal makna serius
  2. bercanda ria disaat membutuhkan keseriusan
  3. senantiasa meremehkan permasalahan yang suci dan sakral
Jiwa yang kosong, tidak patut untuk bangkit mengemban tugas dan tidak akan tegak membawa beban amanat. Dan jadilah kehidupan di dalam jiwa demikian itu hampa, remeh, dan tiada berharga.”
Orang yang memiliki jiwa yang kosong, tidak akan pernah mendapatkan efisiensi waktu yang tinggi.

Kesimpulan

Kita sudah memahami tentang pengertian efisiensi waktu dan juga berbagai kekosongan yang akan menjadikan rendahnya efisiensi waktu baik untuk menfaat dunia dan akhirat. Untuk melengkapi artikel pengertian efisiensi waktu, misalnya meningkatkan kualitas tindakan bisa dibaca pada artikel manajemen waktu lainnya.

Jumat, 08 Juni 2012



"Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan (anak-anak) kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-­orang yang bertakwa”( QS. al-Furgan : 74)
Ayat di atas merupakan kalamullah dan seka­ligus sebuah doa yang dianjurkan untuk selalu dibaca oleh para orang tua. Sebuah doa permohonan agar dikaruniai pasangan hidup dan anak-anak yang shalih-shalihah yang mampu menjadi qurrota a’yun (penyenang hati) bagi kedua orang tuanya.

Bagi para pendidik dan orang tua yang ber­iman, doa merupakan silah (senjata) pamungkas bagi keberhasilan pendidikan anak. Doa merupakan manifestasi Kepasrahan dan penyerahan hakiki segala urusan kepada Allah SWT. Bagaimanapun juga manusia hanya mampu berbuat sebatas usaha, sedangkan hasil akhir berada dalam genggaman kekuasaan Allah Rabbul ‘Izzati. Allah-lah yang melembutkan hati anak kita untuk senantiasa lekat dengan kebaikan. Allah-lah yang menghembuskan bisikan lembut kema’rufan dalam jiwa anak kita. Allah­-lah yang memancarkan cahaya hidayah di dalam hati anak kita. Allah-lah Dzat yang mampu menyelamatkan anak kita dari bisikan kejahatan dan perangkap setan yang menjerumuskan.

Sekali lagi, orang tua hanya mampu berikhtiar agar anak-anak mereka menjadi shalih-shalihah baik dengan jalan menasihatinya, menyekolahkannya di sekolah-sekolah Islam, menyuruhnya mengaji di TPA, memotivasinya untuk aktif pergi ke masjid maupun dan lain sebagainya. Namun secara hakiki, yang membebaskan anak kita dari minum-minuman keras, dari pergaulan bebas antar lawan jenis dan kenakalan-kenakalan; serta yang membukakan hati anak kita untuk mencintai kebaikan, untuk tergerak melaksanakan puasa sunnah, untuk rajin pergi ke masjid dan membaca al-Qur'an, untuk senantiasa menetapi kebenaran adalah Allah Rabbunnas. Untuk itu doa dalam kaca mata Islam, merupakan “usaha batiniah" yang sangat menentukan keberhasilan pendidikan anak. "Usaha batiniah" inilah yang banyak dilupakan oleh para orang tua saat ini. Mereka berupaya sekuat tenaga mendidik anak-anak mereka dengan berbagai jalan dan cara, namun mereka sama sekali tidak pernah melakukan bahkan tidak pernah terbersit dalam hati mereka sekalipun untuk sujud khusyu’ di sepertiga malam dan membenamkan diri mereka dalam kepasrahan doa kepada Allah SWT. Bibir mereka sama sekali tak pernah mendesah lirih penuh pengharapan disertai luapan kepasrahan dan kekhusyukan, seraya berucap : “Ya Allah, hamba telah berusaha mendidik dan mengarahkan anak-anak hamba kepada kebaikan, namun Engkaulah Dzat yang maha menguasai hati manusia. Naungilah hati anak hamba dengan kejernihan kasih-Mu, hiasilah hati anak hamba dengan kelembutan cinta-Mu. Patrikanlah dalam qalbu anak hamba semangat untuk selalu menaati agama-Mu. Hanya kepada-Mu-lah kami berserah diri”. Wallahu sami'ud-du’a, dan Allah maha mendengarsetiap desahan doa dari para hamba-Nya.

Disamping doa ilallah, ikhtiar lahiriah me-rupakan sesuatu yang mutlak dalam pendidikan anak. Di bawah ini akan dikemukakan 33 nasihat tentang cara mendidik anak yang disarikan dari kitab Fan Thrbiyah al-Aulad fi al-Islam (Seni Mendidik Anak) karya Syaikh Muhammad Said Mursi. Para orang tua hendaknya mampu menterjemahkan 33 nasihat tersebut dalam praktik di lapangan. Sehingga anak yang qurrota a'yun betul-betul akan tumbuh mekar dalam keluarga, meneduhkan hati para orang tua, dan menjadikan ke-hidupan keluarga laksana surga.

33 nasihat tentang cara mendidik anak yang dikemukan oleh Syaikh Muhammad Said Mursi adalah sebagai berikut :
  1. Anda boleh saja miskin harta, tidak mem-punyai sesuatu yang bisa anda berikan berupa makanan dan minuman untuk anak, tetapi anda tidak boleh miskin dalam pendidikan, maka hormatilah anakmu itu dengan memberikan pendidikan yang baik.
  2. Seorang guru harus bekerja sama dengan wa­li murid dalam memberikan pendidikan bagi murid-muridnya.
  3. Sahabat itu bisa saja hilang dan seseorang itu dengan agamanya bagai seorang kekasih, maka tunjukilah anak anda dalam memilih teman yang terbaik.
  4. Ketika anak anda melakukan kesalahan, arahkanlah dengan penuh kasih sayang, tidak dengan perasaan kecewa.
  5. Anak kecil itu bagai suatu bejana yang me­nampung segala kebaikan dan keburukan.
  6. Hati-hatilah, anda tidak boleh mengurangi perhatian terhadap anak disebabkan adanya adik baru.
  7. Tumbuhkanlah rasa cinta anak untuk membaca dan mendorongnya untuk menjadi orang yang paling pandai dalam urusan belajar.
  8. Keterbelakangan dalam urusan belajar tidak menunjukkan bodohnya anak tersebut.
  9. Televisi itu lebih banyak membawa kerusakan dibanding membawa manfaat, maka jangan biarkan anak anda menonton acara TV sema­unya. Ibarat sesuatu yang keluar dari anus ayam, bisa telur bisa juga tembelek.
  10. Dekatkanlah anak anda kepada Allah dan Rasul­Nya serta balasan di hari akhir. Ketika anak melakukan perbuatan baik, katakanlah padanya bahwa perbuatan ini adalah per-buatan yang diridhai Allah SWT, dan jika dia melakukan suatu perbuatan kejahatan, katakanlah padanya bahwa perbuatan ini sangatlah dibenci Allah, dan janganlah hanya mengatakan kepadanya bahwa perbuatan ini adalah salah tanpa memberikan alasan.
  11. Laranglah dengan tegas anak anda dari membaca bacaan-bacaan dan majalah-majalah yang kurang mendidik, serta menonton film-film horor dan khayalan yang menyesatkan.
  12. Janganlah sekali-kali anda memberikan nasihat kepada anak di depan orang lain.
  13. Pisahkanlah tempat tidur anak-anak dan jangan biarkan mereka tidur dalam satu kasur.
  14. Ajarkanlah kepada anak-anakmu yang sudah baligh tanpa malu-malu tentang sesuatu yang najis dan bagaimana membersihkan diri.
  15. Sebaiknya anak dijauhkan dari permainan yang menuntut tatapan mata tajam, seperti membaca huruf-huruf yang kecil ukurannya, karena menurut penelitian terdapat 80 % anak-anak tertimpa penyakit mata rabun dekat.
  16. Jangan menjelekkan anak anda di depan orang banyak.
  17. Jangan pernah berselisih dengan kawan atau isteri di depan anak-anak.
  18. Janganlah menghentikan pembicaraan anak ketika dia sedang berbicara.
  19. Perhatikanlah bakat dan kecenderungan yang dimiliki anak anda, seandainya belum memiliki suatu jenis bakat tertentu, maka pilihkanlah untuknya satu jenis pekerjaan atau olahraga yang dapat membantu menemukan jati dirinya, sehingga anak tidak merasa mempunyai kekurangan.
  20. Otak anak kecil itu bagai pisau yang tajam yang dapat menghapal segala sesuatu dengan cepat dan banyak tanpa memahami maknanya, oleh karena itu sibukkan mereka untuk menghafal al-Qur’an, al-Hadits, doa-doa dan dzikir.
  21. Janganlah kamu menakut-nakuti anakmu de­ngan kegelapan malam, jin Ifrit, pisau, hantu atau polisi.
  22. Berhati-hatilah, karena anak akan selalu metn­perhatikan dan berusaha untuk meng-ikuti anda dalam cara berjalan, berdiam, perkataan dan gaya berbicara anda, maka gunakanlah gambaran terbaik dirimu yang dapat dijadikan contoh baginya, karena jika tidak, kamu sendiri yang akan menyesal.
  23. Pendidik yang tidak mempunyai sikap kete­ladanan seperti orang yang menulis di atas air, karena seorang anak itu sangat mudah melupakan perkataan tetapi tidak mudah melupakan suatu perbuatan, oleh karena itu, berhati-hatilah anda dalam menjaga keteladanan, dalam setiap gerakan dan saat diam serta dalam setiap perkataan dan perbuatanmu. Seorang anak bagaikan cermin anda untuk berkaca diri.
  24. Akuilah kesalahanmu dan minta maaflah ke­tika anda melakukan kesalahan di depan anak-­anak, walaupun kesalahan yang anda lakukan itu sangatlah sederhana.
  25. Ajarilah mereka untuk bersikap lemah-lembut dan tidak kasar, karena pada dasarnya anak-anak itu mempunyai sifat yang lembut dan tidak kasar.
  26. Pakailah konsep Umar bin Khattab terhadap anak-anak, yaitu : "Tegas tanpa menampakkan kekerasan dan lembut tanpa menunjukkan kelemahan".
  27. Anak kecil membutuhkan dorongan, maka per­banyaklah mengucapkan padanya : teri-ma kasih, semoga Allah membalas segala ke-baikanmu, selamat untukmu, perbuatanmu baik dan lain-lain.
  28. Biasakanlah anak anda untuk shalat di masjid semenjak kecil dan temanilah pada setiap shalatnya.
  29. Biasakanlah anak perempuan anda untuk memakai jilbab.
  30. Biasakanlah anak anda untuk berpuasa se­menjak kecil secara bertahap.
  31. Hukuman tidak boleh meninggalkan bekas pada mental (jiwa) dan tubuh sang anak.
  32. Ajarkanlah anak untuk menyayangi yang kecil dan menghormati yang besar.
  33. Dalam mendidik anak, seharusnya memper­gunakan imbalan dan hukuman secara ber­samaan dan seimbang.
Penutup

Allah SWT dalam al-Qur’an Surat Ash-Shaffat ayat 102 telah memberikan sample konkrit profil seorang anak shalih yang pernah terlahir di muka bumi ini dan telah memberikan pencerahan bagi peradaban manusia : “Maka tatkala anak itu (Ismail) sampai (pada umur yang sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata : “Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka, pikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab : Hai Bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” (QS. Ash-Shaffat : 102)

Subhanallah. Kita senantiasa berharap, semoga Allah SWT bermurah hati untuk menganugrahi kita “Ismail-Ismail baru” yang shalih menggemaskan yang selalu menebarkan nuansa surgawi, menghamparkan pesona jannati, dan memercikan “air zam-zam” keteduhan di dalam keluarga kita. Allahumma amiin.

(Sumber : Anak Cerdas Dunia Akhirat, Muhammad Albani, 2004)


Trimakasih Telah Berkunjung di Blog Kami Semoga Bermanfaat

Popular Posts

Blog Archive

Follow by Email