Senin, 12 Maret 2018


Surat Al-Mulk:
- Ibnu Abbas berkata:” Pada suatu hari ada seseorang menghampar jubahnya di atas kuburan dan dan ia tidak tahu bahwa tempat itu adalah kuburan, ia membaca surat Al-Mulk, kemudian ia mendengar suara jeritan dari dalam kuburan itu: inilah yang menyelamatkan aku. Kemudian kejadian itu diceriterakan kepada Rasullulah SAW,lalu beliau bersabda : surat Al-Mulk dapat menyelamatkan penghuni kubur dari azab kubur.”
- Imam Muhammad Al-Baqir (sa) berkata:”surat Al-Mulk adalah penghalang dari siksa kubur, surat ini termaktub di dalam taurat, barang siapa yang membacanya di malam hari ia akan memperoleh banyak manfaat dan kebaikan. Sungguh aku membacanya dalam shalat sunnah sesudah Isya’ dalam keadaan duduk. Ayahku membacanya pada sian dan malam. Barang siapa yang membacanya, maka ketika malaikat Munkar dan Nakir akan masuk ke kuburnya dari arah kedua kakinya, kedua kakinya berkata kepada mereka: kalian tidak ada jalan kearahku, karena hamba ini berpijak kepadaku lalu ia membaca surat Al-Mulk pada siang dan malam hari; ketika mereka datang kepadanya dari rongganya, rongganya berkata kepada mereka: kalian tidak ada jalan kearahku, karena hamba ini telah menjagaku dengan surat Al-Mulk; ketika mereka datang kepadanya dari arah lisannya, lisannya berkaya kepada mereka: kalian tidak ada jalan ke arahku, karena hamba ini telah membaca surat Al-Mulk setiap siang dan malam denganku.”


Keutamaan Surat al-waqi’ah, al-mulk dan ar rahman
Surat Al-Waqi’ah :
- Ubay bin ka’b berkata bahwa Rasullulah saw bersabda:” barang siapa yang membaca surat Al-Waqi’ah, ia akan dicatat tidak tergolong pada orang-orang yang lalai.”
- Abdullah bin Mas’ud berkata bahwa Rasullulah saw bersabda”barang siapa yang membaca surat Al-Waqi’ah,ia tidak akan tertimpa oleh kefakiran selamanya”
- Imam Ja’far Ash- Shadiq berkata :”barang siapa yang membaca surat Al-Waqi’ah pada malam jum’at ,ia akan dicintai oleh Allah, dicintai oleh manusia,tidak melihat kesengsaraan, kefakiran,kebutuhan,dan penyakit dunia,surat ini adalah bagian dari sahabatAmirul Mukimin (sa) yang bagi beliau memiliki keistimewan yang tidak tertandingi oleh yang lain.”
- Imam Ja’far Ash-Shadiq (sa)berkata: “barang siapa yang merindukan surga dan sifatnya, maka bacalahsurat Al-Waqi’ah; dan barang siapa yang ingin melihat sifat neraka,maka bacalah surat As-Sajadah.”
- Imam Muhammad Al-Baqir (sa) berkata:”barang siapa yang membaca surat Al-Waqi’ah sebelum tidur,ia akan berjumpa dengan Allah dalam keadaan wajahnya seperti bulan purnama.”
Surat Al-Mulk:
- Ibnu Abbas berkata:” Pada suatu hari ada seseorang menghampar jubahnya di atas kuburan dan dan ia tidak tahu bahwa tempat itu adalah kuburan, ia membaca surat Al-Mulk, kemudian ia mendengar suara jeritan dari dalam kuburan itu: inilah yang menyelamatkan aku. Kemudian kejadian itu diceriterakan kepada Rasullulah SAW,lalu beliau bersabda : surat Al-Mulk dapat menyelamatkan penghuni kubur dari azab kubur.”
- Imam Muhammad Al-Baqir (sa) berkata:”surat Al-Mulk adalah penghalang dari siksa kubur, surat ini termaktub di dalam taurat, barang siapa yang membacanya di malam hari ia akan memperoleh banyak manfaat dan kebaikan. Sungguh aku membacanya dalam shalat sunnah sesudah Isya’ dalam keadaan duduk. Ayahku membacanya pada sian dan malam. Barang siapa yang membacanya, maka ketika malaikat Munkar dan Nakir akan masuk ke kuburnya dari arah kedua kakinya, kedua kakinya berkata kepada mereka: kalian tidak ada jalan kearahku, karena hamba ini berpijak kepadaku lalu ia membaca surat Al-Mulk pada siang dan malam hari; ketika mereka datang kepadanya dari rongganya, rongganya berkata kepada mereka: kalian tidak ada jalan kearahku, karena hamba ini telah menjagaku dengan surat Al-Mulk; ketika mereka datang kepadanya dari arah lisannya, lisannya berkaya kepada mereka: kalian tidak ada jalan ke arahku, karena hamba ini telah membaca surat Al-Mulk setiap siang dan malam denganku.”
- Imam Muhammad Al-Baqir (sa) :” bacalah surat Al-Mulk, karena surat ini menjadi penyelamat dari siksa kubur.”
Surat Ar-Rahman:
- Rasullulah SAW bersabda :”barang siapa yang membaca surat Ar-Rahman, Allah akan menyayangi kelemahannya dan meridhai nikmat yang dikaruniakan kepadanya.”
- Imam Ja’far Ash-Shadiq (sa):” barang siapa yang membaca surat Ar-Rahman, dan ketika membaca kalimat”Fabiayyi alai Rabbikuma tukadzdziban”ia mengucapkan “La bisyay-in min alaika rabbi akadzibu (tidak ada satupun nikmat-Mu duhai tuhanku yang aku dustakan), jika saat membacanya itu pada malam dan siang hari kemudian ia mati,maka matinya seperti matinya orang yang syahid


Semasa sekolah, pastilah kita pernah menyanyikan hymne dan mars, minimal
mars sekolah kita. Ciri dan pembawaan kedua musik yang khas ini membuat kita
mudah mengingat dan menyanyikannya. Namun apakah yang dimaksud musik Mars dan
Hymne tersebut? mari kita bahas! 
Musik Mars
Musik Mars merupakan komposisi musik yang tertatur dan kuatnya
suatu irama didalam sebuah lagu. Mars bisa juga disebut Marcia adalah bentuk
lagu yang umumnya dipakai untuk mengiringi suatu parade atau prosesi. Dan lagu
mars sering juga digunakan untuk gerak jalan, seperti yang sering diterapkan
pada drum band atau marching band.
Didalam lagu mars, terdapat ragam birama, antara lain dari 2/4, 4/4, atau
6/8 dengan aksen pada setiap ketukan. Sebab bentuk dan irama permainannya, maka
lagu mars berbentuk sebuah lagu yang cenderung sifatnhya memberi semangat,
riang dan menghentak-hentak. Contohnya seperti lagu perjuangan yang berbentuk
Mars antara lain, Indonesia Raya, Maju Tak gentar, Halo-Halo Bandung, dan lain
sebagainya.
Musik Hymne
Musik Hymne disebut juga gita puja, karena merupakan sejenis pujian, Hymne
juga sebagai bentuk lagu untuk mendoakan dan harapan, memberi kesan agung, atau
pun rasa syukur yang disampaikan dalam bentuk nada yang disusun dalam lagu.
Hymne juga diartikan sebagai puisi yang dinyanyikan. Contoh lagu perjuangan
yang berbentuk hymne antara lain, Syukur, Gugur Bunga, Mengheningkan Cipta dan
lain sebagainya.




Selasa, 06 Maret 2018

Diriwayatkan dari Ibnu Mas'ud, dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam,
bahwasanya beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Hendaklah kalian
berlaku jujur, karena sesungguhnya kejujuran menghantarkan kepada
kebaikan,dan sesungguhnya kebaikan menghantarkan kepada surga, dan apabila
seseorang senantiasa berlaku jujur niscaya ia di tulis di sisi Allah Ta'ala
sebagai seorang yang jujur, dan janganlah kalian berdusta karena
sesungguhnya dusta menghantarkan kepada kejelekan, dan sesungguhnya
kejelekan menghantarkan kepeda neraka, dan apabila seseorang senantiasa
berlaku dusta niscaya ia di tulis di sisi Allah Ta'ala sebagai seorang
pendusta." (Muttafaqun 'alaih).


Lantas apakah hakekat kejujuran..? Syaikh al-utsaimin Ta'ala berkata, "Jujur
adalah, selarasnya khabar dengan realita, baik berupa perkataan atau
perbuatan."

Oleh karenanya kita katakan, apabila khabar (perkataan) selaras dengan
kenyataan maka itulah kejujuran dengan llisan, dan apabila perbuatan badan
selaras dengan hati maka itulah kejujuran dengan perbuatan.

Maka, orang yang berbuat riya', bukanlah orang yang jujur, karena dia
menampakkan ketaatan tapi hatinya tidak demikian.

Begitu juga orang munafiq, menampakkan keimanan dan menyembunyikan
kekufuran.

Demikian orang musyrik, menampakkan ketauhidan dan menyembunyikan
peribadatan kepada selain Allah.

Tak jauh beda dengan ahli bid'ah, menampakkan keta'atan dan pengikutan
kepada rasul akan tetapi dia menyelisihinya.

“Mulutmu adalah harimaumu” hal ini hendaknya mengilhami kita untuk berhati-hati dalam menjaga lisan (perkataan) kita, bahkan lebih lanjut, pepatah arab mengatakan: “salamatul insani fi khifdhil lisaani”; keselamatan manusia itu didalam menjaga lisannya. Sehingga hendaknya dalam menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan ini, kita benar-benar harus mampu menjaga lisan dari berdusta, menggunjing, mengadu domba, mengolok-olok serta perkataan mengada-ada. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan dan perbuatan dusta maka Allah tidak butuh terhadap puasanya dari makan dan minum.” (HR. Al-Bukhari)

Dari hadist diatas menggambarkan betapa besar pengaruh kejujuran dalam puasa, akan sia-sia puasa seseorang jika ia masih berbohong dimanapun dan kapanpun ia berada. Sungguh puasa merupakan sebuah amalan yang sangat istimewa sebab ibadah ini sangat tergantung pada kejujuran seseorang, didalam menjalankannya seakan-akan yang hanya Allah SWT dan ia sendiri (shaim) yang tahu. Dalam berpuasa, seseorang yang tidak jujur bisa dengan diam-diam minum atau makan, apalagi bila sedang bepergian jauh. Ketika ia melanggar prosedur berpuasa, hanya Allah dan ia sendiri yang tahu. Karena tergantung kejujuran itulah maka Allah akan memberi penilaian tersendiri, sebagaimana sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, yang artinya :”setiap amal perbuatan anak Adam itu untuknya sendiri kecuali puasa, sesungguhnya ia untuk-Ku (Allah SWT) dan Aku-lah yang akan mengganjarnya sendiri”
Puasa melatih kejujuran dengan melakukan perbuatan yang benar. Seseorang yang memiliki kejujuran maka akan mampu mengatakan dan menyatakan kebenaran, yang tidak hanya bisa membenarkan kenyataan. Karakter kejujuran ini mempunyai arti penting dalam pembentukan kepribadian seseorang juga masyarakat. Dan apabila seseorang sudah menggapai predikat takwa dengan puasanya, yaitu disiplin dalam menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, ia akan menjadi orang yang dapat dipercaya atau seorang yang amanah. Profil orang yang dapat dipercaya secara sempurna dapat diraih Rasulullah SAW, bahkan saat beliau masih remaja panggilan Al Amin (yang dapat dipercaya) telah disandangnya.

Berbeda dengan amal ibadah yang lain seperti sholat, yang bisa terlihat jelas gerakan-gerakannya, maka ibadah puasa tidak bisa terlihat secara konkrit, disinilah setiap orang yang berpuasa dilatih kejujuran. Kejujuran dalam arti tidak melakukan sesuatu hal yang membatalkan puasa walaupun tidak ada orang lain yang tahu. Orang yang kejujurannya sudah terbentuk maka ketika berwudlu ia tidak akan berani korupsi meneguk air ketika berkumur walaupun orang disampingnya tidak mengetahuinya. karena dia sadar bahwa ketika berpuasa hanya dia  dan Allah SWT saja yang mengetahui dan dia yakin Allah Maha Mengetahui lagi Maha Melihat apa yang dia lakukan sebagaimana firman Allah SWT didalam surat Al-Mu’minun ayat 51 yang artinya: “wahai para rasul Makanlah dari makanan yang baik, dan kerjakanlah kebajikan. Sungguh Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”.

Kejujuran muncul karena puasa mengedepankan rukun ihsan yang harus kita miliki sebagaiman definisi ihsan yaitu: “anta’budallaha ka-annaka taraahu wainlam takun tarahu fainnahu yaraaka” artinya; “beribadahlah kepada Allah SWT, seakan-akan kamu dapat melihat-Nya dan jika kamu tidak dapat melihat-Nya, maka yakinlah bahwa Allah melihatmu”. Semoga  puasa kita dapat menumbuhkan kejujuran dalam diri.

Apa saja syarat disebut ikhlas dalam belajar? Karena banyak yang belajar namun jarang memperoleh hasil? Banyak yang duduk di majelis namun tidak membuahkan ilmu yang bermanfaat pada dirinya, akhlaknya masih buruk, juga interaksi dengan sesamanya jelek.

Para ulama selalu mewanti-wanti agar kita selalu ikhlas dalam beramal termasuk dalam belajar. Ilmu semakin mudah diraih jika disertai dengan ikhlas. Ilmu semakin jauh dari kita jika yang diharapkan adalah pujian manusia dan ridho selain Allah.

Sesungguhnya ikhlas dalam beramal adalah syarat diterimanya amal dan cara mudah mencapai tujuan. Allah Taala berfirman,
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ
Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (QS. Al Bayyinah: 5).

Dari ‘Umar bin Al Khottob, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
الأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ ، وَلِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى
Setiap amalan tergantung pada niatnya dan setiap orang akan mendapatkan yang ia niatkan.” (HR. Bukhari no. 54 dan Muslim no. 1907).

Abu Bakr  Al Marudzi berkata, “Aku pernah mendengar seseorang bertanya pada Abu ‘Abdillah -yaitu Imam Ahmad bin Hambal- mengenai jujur dan ikhlas. Beliau pun menjawab,
بهذا ارتفع القوم
“Dengan ikhlas semakin mulia (tinggi) suatu kaum).”

Guru kami, Syaikh Sholih bin ‘Abdullah bin Hamd Al ‘Ushoimi -semoga Allah senantiasa menjaga dan memberkahi umur beliau- berkata bahwa ikhlas dalam belajar agama (ilmu diin) jika diniatkan:
1- Untuk menghilangkan kebodohan dari diri sendiri.
2- Untuk menghilangkan kebodohan dari orang lain.
3- Menghidupkan dan menjaga ilmu.
4- Mengamalkan ilmu yang telah dipelajari.

Contoh dari ulama masa silam (ulama salaf), mereka selalu khawatir luput dari sifat ikhlas ketika belajar. Mereka sudah berusaha mewujudkan ikhlas tersebut dalam hati mereka. Namun untuk mengklaim, telah ikhlas, itu amatlah sulit. Sehingga dalam rangka wara’ (kehati-hatian), mereka tidak menyebut diri mereka ikhlas.
Hisyam Ad Dastawa-iy rahimahullah berkata,
والله ما أستطيع أن أقول: إني ذهبت يوما أطلب الحديث أريد به وجه الله
Sungguh aku tidak mampu berkata: aku telah pergi mencari hadits pada satu hari untuk mencari wajah Allah.
Imam Ahmad ditanya, “Apakah engkau telah menuntut ilmu karena Allah?” Jawab beliau,
لله! عزيز, ولكنه شيء حبب إلي فطلبته
“Karena Allah! Itu perkara besar (agung), namun aku berkeinginan kuat untuk terus meraihnya.”

Oleh karenanya, siapa yang luput dari ikhlas, maka ia telah luput dari ilmu dan kebaikan yang banyak. Sehingga ikhlas inilah yang mesti diperhatikan dalam setiap perkara yang nampak ataupun yang samar, yang tersembunyi atau yang terlihat.
Karena itu, kita harus terus berusaha memperbaiki niat. Sufyan Ats Tsauriy berkata,
ما عالجت شيئا أشد علي من نيتي لأنها تتقلب عليَّ
“Aku tidaklah pernah mengobati sesuatu yang lebih berat daripada memperbaiki niatku. Karena niatku dapat terus berbolak-balik.”

Sulaiman Al Hasyimiy berkata, “Terkadang ketika aku mengucapkan satu hadits saja, aku membutuhkan niat. Setelah aku beralih pada hadits yang lain, berubah lagi niatku. Jadi, memang betul menyampaikan satu hadits saja butuh niat ikhlas karena Allah.”
Semoga Allah beri kita hidayah untuk terus ikhlas dalam belajar dan beramal. Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.
Apa yang disebut sekolah unggulan selama ini dipersepsikan sekolah yang memiliki sarana fisik berupa gedung dan sarana-prasarana yang serba megah dan mewah plus input siswa-siswa pilihan berdasarkan nilai akademik yang tinggi ( misalnya nilai 7 ke atas ). Ciri berikutnya biaya sekolah ini menjadi lebih mahal dibanding sekolah lainnya.


Sekolah dengan ciri-ciri seperti itu memang sangat wajar apabila kemudian dipersepsikan sebagai sekolah unggulan. Wajar apabila output siswa menjadi bagus dengan sederet prestasi, baik prestasi akademik maupun non akademik.
Hal demikian telah berlangsung sejak lama dan hampir tanpa kritik sehingga terkesan telah menjadi kebenaran tunggal tentang apa yang disebut dengan Sekolah Unggulan. Benarkah demikian?

Boleh jadi hal itu benar. Misalnya SMAN 1  yang menerima siswa baru dengan rata-rata nilai 8,35. Tentu saja sekolah ini menjadi favorit masyarakat karena memiliki ”koleksi” siswa-siswa berprestasi.
Pertanyaannya kemudian, pernahkah kita berpikir tentang sekolah-sekolah kecil, siswanyanya berasal dari rakyat kecil yang berpenghasilan kecil, nilai akademik mereka rata-rata kecil, dan gurunya berpenghasilan kecil? Pernahkah? Jangan-jangan kita malah meremehkan mereka atau bahkan menyalahkan mereka, ”Bisa nggak sih mengelola sekolah?” Kita mau menamai apa sekolah yang seperti ini, sekolah yang berkualitas rendahkah?

Suparman, pemerhati pendidikan dari Education Forum, di Jakarta, Kompas (3/7). mengatakan bahwa persepsi masyarakat terhadap sekolah unggulan yang selalu menjadi tujuan utama bersekolah bagi putra-putrinya saat ini mestinya diubah. Pemerintah pun harus aktif mengarahkan persepsi ini.

Tidak tepat rasanya menggunakan istilah sekolah unggulan dan sekolah bukan unggulan jika kualifikasinya hanya didasarkan pada kemewahan dan kelengkapan sarana fisik sekolah serta input siswa dengan nilai akademik yang tinggi. Hal ini justru tidak sesuai dengan tujuan pendidikan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Bagaimana mungkin sekolah-sekolah ”unggulan” itu dikatakan telah turut mencerdaskan bangsa kalau sejak awal mereka telah memilih warga bangsa yang sudah cerdas. Bukankah idealnya pendidikan itu berlaku untuk siapa saja untuk kemudian dicerdaskan otaknya, dilembutkan perasaannya, dan disadarkan spiritualitasnya sehingga otak dan hati mereka menjadi transenden menuju ke kesadaran ilahiyah.

Memang seperti dikatakan Suparman bahwa sekolah yang bukan unggulan harus mengubah citranya untuk lebih baik sehingga persepsi masyarakat tidak lagi terpaku pada sekolah-sekolah unggulan yang ada sekarang. Kalau sekolah unggulan selama ini dicitrakan sebagai sekolah dengan kualifikasi seperti disebutkan dimuka, maka sekolah non unggulan harus memilih kualifikasi mana yang lebih mendesak untuk dipercepat akselerasinya agar dapat mensejajarkan diri dengan sekolah unggulan yang ada. Sekolah non unggulan agaknya perlu memilih untuk lebih memfokuskan diri pada upaya mengeksplor prestasi siswa dengan memperhatikan secara serius potensi individual siswa. Sekolah non unggulan harus jeli dalam menterjemahkan kecerdasan yang multidimensional.

Paling tidak kecerdasan manusia itu meliputi delapan hal seperti yang dikatakan Prof. Howard Gardener yaitu kecerdasan linguistik, kecerdasan matematis logis, kecerdasan visual spasial, kecerdasan kinestetis, kecerdasan musik, kecerdasan naturalis, kecerdasan interpersonal dan kecerdasan intrapersonal. Gardener merangkum aspek-aspek kecerdasan ini dalam istilah Multiple Intelligence.

Secara teoritis, multiple intelligence tersebut telah familiar di telinga para pengelola pendidikan tetapi sangat jarang yang benar-benar memberlakukannya. Mungkin hanya Sekolah Alam yang telah berupaya untuk mengakomodasi beragamnya kecerdasan manusia ini. Lalu bagaimana dengan penyelenggaraan sekolah-sekolah konvensioanal? Kalau mereka terus mengabaikan hakikat manusia yang multidimensi, termasuk kecerdasannya yang beraneka ragam dan amat luas dimensinya, maka cepat atau lambat jangan-jangan mereka akan tinggal nama.
Dalam membaca Al-Quran agar dapat mempelajari, membaca dan memahami isi dan makna dari tiap ayat Al-Quran yang kita baca, tentunya kita perlu mengenal, mempelajari ilmu tajwid yakni tanda-tanda baca dalam tiap huruf ayat Al-Quran. Guna tajwid ialah sebagai alat untuk mempermudah, mengetahui panjang pendek, melafazkan dan hukum dalam membaca Al-Quran.


Tajwīd (تجويد) secara harfiah mengandung arti melakukan sesuatu dengan elok dan indah atau bagus dan membaguskan, tajwid berasal dari kata ” Jawwada ”                (جوّد-يجوّد-تجويدا) dalam bahasa Arab. Dalam ilmu Qiraah, tajwid berarti mengeluarkan huruf dari tempatnya dengan memberikan sifat-sifat yang dimilikinya. Jadi ilmu tajwid adalah suatu ilmu yang mempelajari bagaimana cara melafazkan atau mengucapkan huruf-huruf yang terdapat dalam kitab suci Al-Quran maupun Hadist dan lainnya.

Dalam ilmu tajwid dikenal beberapa istilah yang harus diperhatikan dan diketahui dalam pembacaan Al-Quran, diantaranya :
  1. Makharijul huruf, yakni tempat keluar masuknya huruf
  2. Shifatul huruf, yakni cara melafalkan atau mengucapkan huruf
  3. Ahkamul huruf, yakni hubungan antara huruf
  4. Ahkamul maddi wal qasr, yakni panjang dan pendeknya dalam melafazkan ucapan dalam tiap ayat Al-Quran
  5. Ahkamul waqaf wal ibtida’, yakni mengetahui huruf yang harus mulai dibaca dan berhenti pada bacaan bila ada tanda huruf tajwiddan
  6. Al-Khat dan Al-Utsmani
Arti lainnya dari ilmu tajwid adalah melafazkan, membunyikan dan menyampaikan dengan sebaik-baiknya dan sempurna dari tiap-tiap bacaan dalam ayat Al-Quran. Menurut para Ulama besar menyatakan bahwa hukum bagi seseorang yang mempelajari tajwid adalah Fardhu Kifayah, yakni dengan mengamalkan ilmu tajwd ketika memabaca Al-Quran dan Fardhu ‘Ain atau wajib hukumnya baik laki-laki atau perempuan yang mu’allaf atau seseorang yang baru masuk dan mempelajari Islam dan KitabNya.

Mengenal, mempelajari dan mengamalkan ilmu tajwid berserta pemahaman akan ilmu tajwid itu sendiri merupakan hukum wajib suatu ilmu yang harus dipelajari, untuk menghindari kesalahan dalam membaca ayat suci Al-Quran dan melafazkannya dengan baik dan benar sehingga tiap ayat-ayat yang dilantunkan terdengar indah dan sempurna.

Berikut ini ada dalil atau pernyataan shahih dari Allah SWT yang mewajibkan setiap HambaNya untuk membaca Al-Quran dengan memahami tajwid, diantaranya :
1. Dalil pertama di ambil dari Al-Quran. Allah SWT berfirman dalam ayatNya yang artinya “Dan bacalah Al-Qur’an itu dengan perlahan/tartil (bertajwid)”
[QS:Al-Muzzammil (73): 4]. Ayat ini jelas menunjukkan bahwa Allah SWT memerintahkan Nabi Muhammad untuk membaca Al-Quran yang diturunkan kepadanya dengan tartil, yaitu memperindah pengucapan setiap huruf-hurufnya (bertajwid).
2. Dalil kedua diambil dari As-Sunnah ( Hadist ) yang diriwayatkan oleh Ummu Salamah r.a.(istri Nabi Muhammad SAW), ketika beliau ditanya tentang bagaimana bacaan Al-Quran dan sholat Rasulullah SAW, maka beliau menjawab: ”Ketahuilah bahwa Baginda S.A.W. Sholat kemudian tidur yang lamanya sama seperti ketika beliau sholat tadi, kemudian Baginda kembali sholat yang lamanya sama seperti ketika beliau tidur tadi, kemudian tidur lagi yang lamanya sama seperti ketika beliau sholat tadi hingga menjelang shubuh. Kemudian dia (Ummu Salamah) mencontohkan cara bacaan Rasulullah S.A.W. dengan menunjukkan (satu) bacaan yang menjelaskan (ucapan) huruf-hurufnya satu persatu.” (Hadits 2847 Jamik At-Tirmizi).
3. Dalil ketiga diambil dari Ijma atau pendapat para ulama besar Islam. Yakni kesepakatan para ulama yang dilihat dari zaman Rasulullah SAW hingga sampai saat ini, yang menyatakan bahwa membaca Al-Quran dengan ber-Tajwid merupakan hukum atau sesuatu yang fardhu dan wajib.

Jika kamu ingin mendapat keberhasilan di dunia dan akhirat, maka amalkan nasehat-nasehat di bawah ini:
  1. Berbicaralah kepada kedua orang tua dengan sopan, jangan sekali-kali kamu mengatakan uff (“ah” atau sejenisnya yang menunjukkan ketidaksukaan), dan janganlah membentak keduanya, tetapi berkatalah kepada keduanya dengan kata-kata yang mulia.
  2. Taatlah kepada kedua orang tua dalam perkara yang bukan maksiat karena tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam perkara bermaksiat kepada al-Khaliq.
  3. Bersikap lembah lembutlah kepada kedua orang tua, jangan bermuka masam, dan jangan memelototi mereka karena marah.
  4. Senantiasa mendengarkan kata-kata mereka berdua, jagalah kehormatan dan harta keduanya, dan jangan mengambil sesuatu dari milik mereka berdua tanpa izin.
  5. Berbuatlah sesuatu untuk menyenangkan keduanya walaupun tanpa mereka perintah seperti melayani, membelikan kebutuhan sehari-hari mereka, dan menuntut ilmu dengan sungguh-sungguh.
  6. Bermusyawarahlah dengan mereka berdua dalam semua urusan pekerjaanmu dan mintalah maaf jika kamu terpaksa harus berbeda pendapat dengan mereka.
  7. Bersegeralah memenuhi panggilan mereka dengan wajah yang ceria sambil berkata, “Ya, Ummi (Bu)”, atau ” Ya, Abi (Ayah)”. Jangan kamu mengatakan “Ya, papa” atau “Ya Mama” karena keduanya kata-kata asing (bukan dari istilah Islam).
  8. Hormatilah teman dan kerabat mereka berdua baik ketika keduanya masih hidup maupun sesudah meninggal dunia.
  9. Jangan mendebat dan jangan menyalahkan mereka, tetapi usahakan untuk menjelaskan sesuatu yang benar kepada mereka dengan sopan santun.
  10. Jangan bersikap keras kepada mereka berdua, jangan bicara kasar, diamlah, dengarkan pembicaraan mereka, bersikaplah sopan santun, dan jangan membuat gelisah salah seorang saudaramu dalam rangka menghormati orang tuamu.
  11. Berdirilah untuk menyambut orang tuamu jika mereka menemuimu dan ciumlah mereka.
  12. Bantulah ibumu di rumah dan janganlah menunda-nunda untuk membantu ayahmu dalam urusan pekerjaannya.
  13. Janganlah bepergian jika kedua orang tuamu tidak mengizinkan walaupun untuk urusan yang penting. Jika terpaksa harus pergi, maka mintalah maaf kepada mereka dan jangan berhenti mengirim surat kepada mereka.
  14. Jangan masuk menemui mereka berdua jika mereka tidak mengizinkan, khususnya ketika mereka sedang tidur atau istirahat.
  15. Jika kamu masih tetap meremehkan larangan merokok, maka janganlah merokok di depan mereka berdua.
  16. Jangan mendahului mengambil makan sebelum mereka berdua dan muliakan mereka dalam hal makan dan minum.
  17. Jangan mendustai mereka dan jangan mencela jika mereka mengerjakan pekerjaan yang tidak memuaskanmu.
  18. Jangan mengutamakan istrimu atau anakmu daripada orang tuamu. Carilah kerelaan mereka berdua sebelum yang lainnya karena ridha Allah terletak pada ridha orang tua dan amarah Allah terletak pada amarah orang tua.
  19. Jangan duduk di tempat yang lebih tinggi dari keduanya dan janganlah menjulurkan kakimu di hadapan mereka karena sombong.
  20. Jangan kamu merasa sombong dalam hal penghasilan terhadap ayahmu walaupun kamu menjadi pegawai tinggi. Jangan menolak kebaikan mereka berdua atau menyakiti keduanya walaupun hanya dengan sepatah kata.
  21. Jangan pelit untuk memberi nafkah kepada kedua orang tua sehingga mereka sampai minta kepadamu. Tindakan seperti ini adalah aib bagimu dan kelak akan diketahui oleh anak-anakmu. Jika kamu taat (kepada orang tuamu), nanti kamu juga akan ditaati (oleh anak-anakmu).
  22. Perbanyaklah mengunjungi kedua orang tua, berilah hadiah kepada mereka, berterima kasihlah kepada keduanya atas pendidikan dan kesabaran mereka kepadamu, dan ambillah pelajaran untuk kamu berikan kepada anak-anakmu, serta janganlah kamu bertindak keras kepala kepada mereka.
  23. Orang yang paling berhak dihormati adalah ibumu kemudian ayahmu. Ketahuilah bahwa surga itu di bawah telapak kaki ibu.
  24. Hindarkan dirimu dari berbuat durhaka dan marah kepada kedua orang tua. Jika kamu durhaka dan murka kepada keduanya, kamu akan menderita di dunia dan akhirat karena anak-anakmu juga akan memperlakukan kamu seperti apa yang kamu lakukan terhadap kedua orang tuamu.
  25. Jika kamu meminta sesuatu kepada kedua orang tuamu, maka bersikaplah lemah lembut kepada mereka. Berterima kasihlah jika keduanya memberimu, mintalah maaf jika mereka tidak memberimu, dan jangan terlalu banyak meminta kepada mereka agar tidak menyusahkan keduanya.
  26. Jika kamu telah mampu mencari rezeki sendiri, maka bekerjalah dan bantulah kedua orang tuamu.
  27. Kedua orang tuamu mempunyai hak atas dirimu dan istrimu juga mempunyai hak atas dirimu. Oleh karena itu, berikanlah hak masing-masing, usahakan untuk mendamaikan jika orang tua dan istrimu sedang berselisih, dan berikanlah hadiah kepada kedua belah pihak secara sembunyi-sembunyi.
  28. Jika kedua orang tuamu bertengkar dengan istrimu, maka jadilah penengah dan berilah pengertian kepada istrimu bahwa kamu selalu bersamanya jika memang dia pada pihak yang benar. Meskipun demikian kamu harus senantiasa membuat senang kedua orang tua.
  29. Jika kamu berselisih paham dengan kedua orang tuamu tentang urusan pernikahan dan perceraian, maka berhukumlah kepaa syari’at Islam. Itulah sebaik-baik pertolongan bagi kalian semua.
  30. Doa orang tua adalah mustajab (makbul), doa untuk kebaikan maupun doa kejelekan. Oleh karena itu, hindarilah doa jelek dari  orang tua kepadamu.
  31. Bersikaplah sopan santun kepada orang lain. Barang siapa mencela orang lain, mereka akan mencelanya. Nabi SAW bersabda, yang artinya “Di antara dosa-dosa besar adalah seorang mencela kedua orang tuanya, yaitu dia mencela ayah orang lain, lalu orang tersebut mencela ayahnya dan dia mencela ibu orang lain lalu orang tersebut ganti mencela ibunya.” (Muttafaq ‘alaihi).
  32. Kunjungilah kedua orang tuamu ketika masih hidup dan setelah mereka meninggal dunia, bersedekahlah untuk keduanya, dan perbanyaklah doa untuk keduanya. “Ya allah, ya Tuhanku. Ampunilah aku dan kedua orang tuaku dan sayangilah keduanya sebagaimana mereka menyayangiku ketika aku kecil”.
Sumber: Nasehat-Nasehat Nabawiyyah, oleh Syaikh Muhammad bin Jamin Zainu.

Jumat, 02 Maret 2018

Ketika semua jalan terasa buntu. Pandangan ke masa depan terasa suram, di mendung awan gelap tanpa harapan. Hidup didera berbagai persoalan yang mengharu biru, maka seorang hamba yang merindu cinta Ilahi, bersegera mengadukan seluruh persoalannya kepada Dia yang Maha Penolong. Dengan sebongkah hati penuh iman dan optimisme, ia berhusnuzan (berprasangka baik) kepada Allah, bahwa hanya dengan rida dan iradah-Nya, segala awan gelap kehidupan mampu disingkirkan. Tidak ada yang mustahil bagi Allah, karena bagi-Nya cukuplah berucap, ”Kun faya kun, maka jadilah.”


Dalam melafalkan doanya, ia pun memintal sejuta sesal seraya bertobat membersihkan diri dari dosa. Karena, ia sadar bahwa dosa adalah kabut penghalang untuk memandang wajah Ilahi. Rasulullah SAW bersabda, "Tidak ada yang dapat menolak ketentuan takdir (qadha) kecuali doa. Dan, tidaklah ada yang menambah umur kecuali berbuat kebajikan. Dan, seseorang diharamkan rezekinya, karena perbuatan dosanya.” (HR Tirmidzi dan Ibnu Hibban).

Ketika ia berdoa tumbuh keyakinan bahwa cepat atau lambat permohonannya akan dikabulkan Allah. Dia tidak akan menyalahkan siapa pun bila doanya belum terkabul, bahkan sebaliknya, ia akan terus melakukan introspeksi dan melakukan islah (perbaikan diri), melakukan penyucian jiwa (tazkiyatun nafs) dan memperbanyak berbuat kebajikan (fastabiqul khairat). Karena, ia sadar setiap doa ada syarat-syaratnya. Tidaklah seseorang disebut sebagai orang baik, kecuali ia memang selalu berbuat baik. Tidaklah seseorang disebut beriman, kecuali ia penuhi kriteria untuk diakui sebagai seorang yang beriman. Demikian juga dengan doa. Tidaklah doa dikabulkan kecuali ia dipenuhi kehendak Ilahi dengan rasa penuh cinta.

Rasulullah SAW telah memberikan tuntunan bahwa salah satu syarat berdoa adalah sikap optimistis dan yakin bahwa apa yang ia harapkan akan dikabulkan. Rasulullah bersabda, "Jika kamu berdoa kepada Allah Azza wa Jalla, wahai manusia mohonlah kehadirat-Nya dengan penuh keyakinan bahwa doamu akan dikabulkan, karena Allah tidak akan mengabulkan doa dari hati yang lalai." (HR Ahmad).

Doa sesungguhnya akan melahirkan kekuatan batin yang luar biasa. Karena, sikap percaya diri dan optimisme merupakan pedang paling tajam dalam menebas segala ilalang semak belukar yang mengotori perjalanan.

Orang yang berdoa itu bersikap optimistis penuh prasangka baik (husnuzhan) kepada Allah SWT. Orang optimistis mampu melihat kesempatan di antara begitu banyak kesempitan. Sedangkan orang pesimistis melihat begitu banyak kesempitan di antara semua kesempatan.

Optimisme adalah sebuah keyakinan yang akan membawa pada pencapaian hasil. Tidak ada yang bisa diperbuat tanpa harapan dan percaya diri. Salah satu sifat seorang mukmin adalah sikapnya yang optimistis, tidak ada rasa duka cita atau merasa cemas dalam memandang masa depan. "Dan, janganlah kamu merasa lemah dan jangan bersedih hati, karena kamulah orang-orang yang paling unggul, jika kamu beriman.” (QS Ali Imran [3]: 139). Wallahu a’lam bish shawab.

Kamis, 01 Maret 2018

Saudaraku..
Abu Dzar al Ghifari ra pernah berujar:
“Maukah aku beritahukan kepada kalian perihal hari kemelaratanku (yang hakiki)?. Yaitu hari di mana aku di masukkan ke dalam kuburku.”
(Mawa’izh as shahabah, Shalih Ahmad al Syami).



Saudaraku..
Banyak orang yang lari dari kemiskinan hidup. Berbagai upaya dilakukan agar ia terhindar dari kemelaratan. Tidak sedikit jalan ditempuh untuk menyelamatkan diri darinya. Baik itu jalan yang benar ataupun jalan yang salah. Baik itu dengan cara yang halal ataupun dengan cara yang haram. Entah itu diraih dengan keridha’an orang lain maupun dengan cara menzalimi sesama. Karena kemiskinan ia pandang sebagai bencana, kepahitan tak terkira dan momok dalam kehidupan. Ungkapan sahabat Nabi yang dikenal zuhud ini, memberikan arahan bagi perjalanan hidup kita ke depan. Di antaranya:

  • Kemiskinan sejati adalah miskin amal shalih bukan miskin wajah, harta, jabatan, kedudukan, popularitas dan yang lainnya. Di kubur itulah tergambar jelas masa depan kita di sana. Apakah berakhir cerah atau sebaliknya suram dan gelap.
  • Saat malaikat Munkar dan Nakir bertanya mengenai siapa Tuhan kita, siapa Nabi kita dan apa agama kita di alam kubur, maka yang akan menjawab adalah amalan kita dan bukan lisan kita. Jawaban yang tepat adalah pertanda baik untuk ujian berikutnya. Sebaliknya ketidak mampuan diri untuk memberikan jawaban yang benar, merupakan awal dari bencana besar yang telah menantinya.
  • Setelah kita meninggalkan dunia, tiada lagi bermanfaat kenikmatan dunia yang telah kita kumpulkan berpuluh-puluh tahun dengan perasan keringat. Bahkan tidak jarang, harta benda yang kita tinggalkan justru menjadi pemicu keretakan dan pertikaian bagi ahli waris kita.
  • Setelah berada di alam kubur, tiada seorangpun yang merasa dirinya kaya raya, walau segala kenikmatan hidup di dunia telah diraihnya. Karena setiap orang merasa kurang dengan amal shalih yang telah diukirnya di dunia. Terlebih bagi orang yang telah menzalimi diri sendiri, dengan jalan menghalangi dirinya dari beramal shalih. Padahal waktu, peluang dan kesempatan terbentang di hadapannya.
  • Sebelum terlambat, mari kita sadari hakikat kemiskinan dan kemelaratan ini. Kita boleh miskin dan melarat di dunia. Tapi jangan sampai kita miskin dan melarat di akherat sana. Yang dimulai dari alam kubur kita. Sebab jika ajal telah menjemput kita, kehidupan sejati baru kita mulai. Apakah kita menjadi kaya lantaran pundi-pundi amal shalih yang telah kita himpun dengan susah payah di dunia. Atau sebaliknya, kita menjadi miskin amal lantaran silau dengan gemerlapnya dunia dan tertipu dengan kenikmatan semu.
  • Membuka lembaran-lembaran hidup para salafus shalih, terlebih para sahabat mulia, merupakan jalan menuju keshalihan pribadi. Di sana ada keteladanan. Di sana ada pelita penerang. Dan di sana ada contoh nyata, bagaimana kita menjadi sosok pribadi muslim yang mendekati kata ‘ideal’.
Ya Rabbi, jadikanlah kami orang-orang yang kaya di akherat sana dan mudahkanlah kami mengukir amal-amal shalih dalam hidup dan kehidupan ini. Amien. Wallahu a’lam bishawab.

Video ABA

Mengenai Saya

Trimakasih Telah Berkunjung di Blog Kami Semoga Bermanfaat

Popular Posts

Blog Archive

Follow by Email